Senin, 19 Oktober 2015

Efek Samping Obat TBC

Pengobatan tuberkolosis (TBC) membutuhkan waktu minimal enam sampai sembilan bulan, bahkan terkadang lebih. Hampir semua kasus TBC dapat disembuhkan dengan obat-obat anti TBC saat ini. Tentunya jika dikonsumsi minimal selama enam bulan tanpa putus.

Seperti halnya obat-obat lain, obat anti tuberkolosis juga dapat menyebabkan efek samping. Selama pengobatan tuberkolosis, dokter akan terus memantau perkembangan dari kemajuan pengobatan pasien, biasanya dengan melakukan pemeriksaan darah, dahak, atau tes urin dan rontgen. Jika setelah enam bulan pasien dinyatakan sembuh dari tuberkolosis berdasarkan pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, maka pengobatan akan dihentikan.

Efek samping obat-obatan TBC

Setidaknya ada empat jenis obat yang digunakan untuk mengobati tuberkolosis. Keempat obat ini memiliki efek samping tersendiri. Obat-obatan tersebut adalah:
  • Isoniazid - dapat membuat tubuh merasa lemah, mual, atau membuat nafsu makan hilang. Isoniazid terkadang juga menyebabkan mati rasa atau kesemutan di tangan atau di kaki, tapi biasanya hanya terjadi pada orang yang kurang gizi.
  • Rifampisin - dapat menurunkan efektivitas pil kontrasepsi (KB) dan beberapa jenis obat lainnya. Beritahu dokter jika mengonsumsi obat jenis lain selama periode pengobatan TBC. Wanita penderita TBC yang ingin ber-KB sebaiknya berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu mengenai jenis kontrasepsi apa yang paling efektif untuknya. Selain itu, rifampisin dapat membuat lensa implan dan lensa kontak lunak menjadi bernoda. Rifampisin juga dapat menyebabkan urin, air lir, dan keringat berwarna merah atau oranye. Kabar baiknya, efek samping ini tidak berbahaya, sehingga tidak perlu dikhawatirkan.
  • Etambutol - dapat menyebabkan masalah penglihatan. Biasanya kualitas penglihatan pasien akan diperiksa selama pengobatan dengan etambutol.
  • Pirazinamid - dapat menyebabkan mual dan hilangnya nafsu makan. Pirazinamid biasanya hanya diterapkan selama dua atau tiga bulan pertama pengobatan TBC.
Hal-hal yang perlu diperhatikan selama pengobatan TBC

Selama periode pengobatan tuberkolosis, perhatikan hal-hal berikut:
  • Hubungi dokter jika mengalami efek samping berupa:
    • Mual atau muntah
    • Penyakit kuning - kulit dan mata berwarna kuning
    • Demam yang tidak jelas penyebabnya
    • Kesemutan atau mati rasa pada tangan atau kaki, atau nyeri sendi
    • Ruam kulit, kulit gatal atau memar
    • Perubahan visual atau perubahan penglihatan (warna merah-hijau).
  • Beritahu dokter jika ada obat lain yang dikonsumsi.
  • Mengonsumsi obat TBC harus dalam selama minimal enam bulan, agar semua bakteri TBC mati.
  • Minum terus obat TBC dan jangan berhenti meskipun merasa sudah sehat, kecuali jika dokter telah menyatakan sembuh. Mengonsumsi obat TBC harus teratur dan sesuai dengan jadwal, karena bila tidak, bakteri TBC akan menjadi resisten (kebal) terhadap obat-obatan.
  • Alkohol dapat meningkatkan efek samping dan toksisitas obat TBC, karena keduanya mempengaruhi hati. Jangan minum alkohol.

Efek Samping Obat Kortikosteroid

Obat golongan kortikosteroid termasuk golongan obat yang penting dalam dunia pengobatan, karena memiliki aksi farmakologi yang luas, sehingga sering digunakan dalam berbagai penyakit, sampai-sampai ada yang menyebutnya obat dewa, obat segala penyakit. Tapi di sisi lain, karena tempat aksinya luas, efek sampingnya pun luas dan tidak kurang berbahayanya. Penasaran kan tentang kortikosteroid ? Apaan tuh ? Apa saja yang termasuk obat kortikostroid ?
Kortikosteroid adalah suatu hormon yang dibuat oleh bagian korteks (luar) dari kelenjar adrenal. Hormon ini memiliki dua efek utama yang disebut efek glukokortikoid dan efek mineralokortikoid. Efek glukokortikoid antara lain :
  1. meningkatkan glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein,  sehingga beresiko meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, orang dengan resiko diabetes dapat mengalami kenaikan kadar gula darah yang nyata.
  2. efek katabolik, yaitu mengurai protein sehingga mengurangi pembentukan protein, termasuk protein yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Akibatnya terjadi osteoporosis atau keropos tulang, karena matriks protein tulang menyusut. Efek ini juga menyebabkan gangguan pertumbuhan jika digunakan pada anak-anak dalam jangka waktu lama.
  3. mempengaruhi metabolisme lemak tubuh dan distribusinya, sehingga menyebabkan pertambahan lemak di bagian-bagian tertentu tubuh, yaitu di wajah (jadi membulat), bahu, dan perut.
  4. mengurangi menghambat proses radang, sehingga merupakan obat pilihan berbagai penyakit peradangan,
  5. menurunkan fungsi jaringan limfa sehingga menyebabkan berkurangnya dan mengecilnya sel limfosit. Efek ini menyebabkan menurunnya kekebalan tubuh atau imunosupresan.Sedangkan efek mineralokortikoid utamanya adalah mengatur keseimbangan garam mineral dan air dalam tubuh.
Obat-obat kortikosteroid adalah senyawa-senyawa hasil sintesis yang struktur kimianya menyerupai hormon steroid alami. Dengan modifikasi pada struktur kimianya, potensinya dapat ditingkatkan sampai beberapa kali lipat dari senyawa alaminya. Yang termasuk obat kortikosteroid antara lain : hidrokortison, deksametason, betametason, beklometason, dll. Mekanisme aksinya mirip satu sama lain, tetapi mereka berbeda dalam potensi dan lama aksinya.
Apa saja penggunaan obat kortikosteroid ? Obat golongan kortikosteroid utamanya digunakan untuk mengatasi radang, apapun penyebab radangnya dan di manapun lokasinya. Beberapa penyakit peradangan yang kerap diobati dengan kortikosteroid adalah asma, radang rematik, radang usus, radang ginjal, radang mata, dll. Selain itu, obat ini juga digunakan pada penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh, seperti berbagai jenis alergi, dan lupus. Dengan sifatnya yang menurunkan sistem kekebalan, kortikosteroid juga dapat digunakan untuk pasien yang baru menjalani transplantasi organ untuk mencegah reaksi penolakan tubuh terhadap organ yang dicangkokkan.   Obat ini bahkan digunakan juga pada pasien kanker, yaitu untuk mencegah mual dan muntah akibat kemoterapi, juga pada terapi kanker itu sendiri sebagai terapi pendukung kemoterapi. Kortikosteroid juga digunakan untuk ibu hamil yang memiliki resiko melahirkan prematur, yaitu untuk mematangkan paru-paru janin, sehingga jika harus lahir prematur paru-paru bayi sudah cukup kuat dan bekerja dengan baik.
Begitu banyaknya penggunaan kortikosteroid. Dalam beberapa kasus, kortikosteroid merupakan satu-satunya pilihan obat terbaik, sehingga mau tidak mau harus digunakan. Di sisi lain, efek sampingnya cukup luas, antara lain : meningkatkan resiko diabetes, osteoporosis, menghambat pertumbuhan anak-anak, menyebabkan gemuk pada bagian tubuh tertentu (wajah, bahu, perut), menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah terkena infeksi, meningkatkan resiko hipertensi karena menahan garam di dalam tubuh, menyebabkan gangguan lambung (perdarahan lambung), dll. Namun efek samping ini umumnya baru muncul pada penggunaan yang cukup lama (lebih dari sebulan secara rutin). Untuk itu, yang perlu diperhatikan adalah cara penggunaan yang tepat. Artikel ini tidak bermaksud menakut-nakuti pembaca untuk menggunakan obat kortikosteroid, tetapi mengajak untuk mengenal dan dapat menggunakannya dengan benar. Beberapa cara untuk mensiasati efek samping yang mungkin timbul antara lain :
  1. bagi pasien dengan resiko diabetes, kurangi asupan gula/karbohidrat
  2. untuk mengurangi resiko osteoporosis, tambahlah suplemen Calcium dan Vitamin D
  3. untuk mengurangi resiko hipertensi, kurangi asupan garam dalam makanan
  4. untuk mengurangi kegemukan, bisa dilakukan diet yang sesuai
  5. untuk menghindari terjadinya infeksi, hindarkan diri dari lingkungan hidup yang kotor dan polusi. Tambahkan suplemen makanan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
  6. untuk menghindari gangguan lambung, minumlah obat ini setelah makan atau bersama snack, jangan pada saat perut kosong.
Obat kortikosteroid menurut aturannya hanya dapat diperoleh dengan resep dokter, kecuali yang berbentuk salep. Jika Anda mendapat resep dokter yang berisi kortikosteroid, pastikan Anda mengetahui informasi-informasi yang diperlukan tentang obat ini dan gunakan sesuai dengan petunjuk dokter. Pada penggunaan jangka panjang pada penyakit kronis yang diterapi dengan kortikosteroid, penggunaan obat tidak boleh dihentikan secara mendadak karena akan mengganggu adaptasi tubuh. Penghentian harus perlahan-lahan dengan dosis yang makin lama makin berkurang. Mengapa demikian ? Karena selama penggunaan kortikosteroid dari luar, produksi hormon ini secara alami dari tubuh akan terhenti, maka jika penggunaan dari luar tiba-tiba dihentikan, tubuh akan kekurangan hormon ini secara normal dan akan terjadi reaksi-reaksi yang tidak diinginkan.